Ilustrasi - Wukuf di Arafah (FOTO: HO/DREAM)
JAKARTA - Muzdalifah merupakan salah satu fase penting dalam rangkaian ibadah haji yang dijalani jamaah setelah wukuf di Arafah. Di tempat inilah jamaah bermalam dan menghidupkan malam dengan dzikir serta doa, sebagai bentuk penghambaan total kepada Allah SWT.
Keberadaan di Muzdalifah tidak hanya bermakna transit menuju Mina, tetapi juga momentum spiritual untuk memperkuat ketakwaan dan menenangkan jiwa setelah puncak wukuf.
Secara syariat, jamaah bergerak dari Arafah menuju Muzdalifah setelah matahari terbenam pada 9 Zulhijah. Setibanya di Muzdalifah, jamaah melaksanakan salat Magrib dan Isya secara jamak takhir, kemudian bermalam hingga terbit fajar. Praktik ini mengikuti tuntunan Rasulullah SAW yang dijelaskan dalam Al-Qur’an:
فَإِذَا أَفَضْتُمْ مِنْ عَرَفَاتٍ فَاذْكُرُوا اللَّهَ عِنْدَ الْمَشْعَرِ الْحَرَامِ وَاذْكُرُوهُ كَمَا هَدَاكُمْ وَإِنْ كُنْتُمْ مِنْ قَبْلِهِ لَمِنَ الضَّالِّينَ
Artinya:
“Apabila kamu telah bertolak dari Arafah, maka berzikirlah kepada Allah di Masy‘aril Haram (Muzdalifah), dan berzikirlah kepada-Nya sebagaimana Dia telah memberi petunjuk kepadamu, sekalipun sebelumnya kamu termasuk orang-orang yang sesat.” (QS Al-Baqarah ayat 198)
Ayat ini menegaskan bahwa amalan utama di Muzdalifah adalah memperbanyak dzikir dan doa. Tidak ada doa khusus yang diwajibkan, namun jamaah dianjurkan membaca doa, istighfar, takbir, tahlil, dan tasbih. Di antara bacaan doa yang sering diamalkan adalah:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ رِضَاكَ وَالْجَنَّةَ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ سَخَطِكَ وَالنَّارِ
Artinya:
“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu keridaan dan surga, serta aku berlindung kepada-Mu dari murka-Mu dan neraka.”
Doa ini mencerminkan harapan tertinggi seorang hamba ketika berada di tempat mustajab, memohon keselamatan dunia dan akhirat. Jamaah juga dianjurkan memperbanyak istighfar sebagai bentuk penyesalan dan penyucian diri, sebagaimana firman Allah SWT:
وَمَنْ يَسْتَغْفِرِ اللَّهَ يَجِدِ اللَّهَ غَفُورًا رَحِيمًا
Artinya:
“Dan barang siapa memohon ampun kepada Allah, niscaya ia akan mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS An-Nisa ayat 110)
Dalam praktiknya, jamaah menghabiskan waktu malam di Muzdalifah dengan beristirahat secukupnya sambil memperbanyak doa dan dzikir. Setelah salat Subuh, jamaah disunnahkan untuk berdoa dan berdzikir hingga langit mulai terang sebelum melanjutkan perjalanan ke Mina. Rasulullah SAW bersabda:
إِنَّمَا جُعِلَ الطَّوَافُ بِالْبَيْتِ وَبَيْنَ الصَّفَا وَالْمَرْوَةِ وَرَمْيُ الْجِمَارِ لِإِقَامَةِ ذِكْرِ اللَّهِ
Artinya:
“Sesungguhnya tawaf di Baitullah, sa’i antara Shafa dan Marwah, serta melempar jumrah disyariatkan untuk menegakkan dzikir kepada Allah.” (HR Abu Dawud)
Hadis ini menegaskan bahwa seluruh rangkaian haji, termasuk bermalam di Muzdalifah, bertujuan menghidupkan dzikir dan menguatkan hubungan seorang hamba dengan Tuhannya. Dari Muzdalifah, jamaah mengumpulkan kerikil yang akan digunakan untuk melempar jumrah di Mina, lalu bergerak setelah fajar menyingsing.
Muzdalifah dengan kesederhanaannya mengajarkan makna kesetaraan, kesabaran, dan kepasrahan. Tanpa kemewahan, jamaah berkumpul di satu tempat terbuka, mengingat Allah dengan hati yang tunduk.
Melalui doa-doa yang dipanjatkan dan adab yang dijaga, keberadaan di Muzdalifah menjadi bagian penting dari ikhtiar menuju haji mabrur, haji yang tidak hanya sah secara ritual, tetapi juga melahirkan perubahan sikap dan ketakwaan dalam kehidupan setelahnya.