• Oase

Ayat Ini Jelaskan Kerusakan di Bumi Karena Ulah Manusia

Agus Mughni Muttaqin | Minggu, 30/11/2025 11:16 WIB
Ayat Ini Jelaskan Kerusakan di Bumi Karena Ulah Manusia Ilustrasi - Pemandangan kerusakan yang disebabkan oleh banjir (FOTO: ANADOLU)

JAKARTA - Kerusakan lingkungan yang kian terasa, mulai dari perubahan iklim, pencemaran laut, hingga deforestasi atau pembabatan dan penghilangan hutan, ternyata bukan hanya isu ilmiah. Dalam Islam, jauh sebelum dunia membicarakan krisis ekologis, Al-Qur’an sudah memberi peringatan tegas tentang dampak ulah manusia terhadap bumi.

Salah satu ayat yang paling sering dijadikan rujukan adalah QS. Ar-Rum ayat 41, yang menyebutkan bahwa kerusakan di darat dan laut muncul karena ulah atau perbuatan tangan manusia. Ayat tersebut menegaskan bahwa bencana ekologis bukan sekadar fenomena alam, tetapi konsekuensi dari perilaku manusia yang tidak menjaga keseimbangan bumi.

Ayat itu berbunyi: “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari akibat perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Ar-Rum: 41)

Pesan ayat ini terasa semakin relevan saat dunia menghadapi realitas kerusakan lingkungan yang makin tak terbendung. Perubahan pola cuaca ekstrem, naiknya permukaan air laut, banjir bandang, hingga meningkatnya polusi udara menunjukkan bahwa bumi sedang “memberi balik” apa yang manusia lakukan.

Para ulama memaknai ayat tersebut sebagai ajakan untuk bertanggung jawab. Kerusakan yang disebutkan tidak hanya mencakup bencana alam, tetapi juga ketimpangan sosial, eksploitasi berlebihan, dan perilaku tidak berkelanjutan yang menghambat keberlangsungan hidup generasi berikutnya.

Sementara itu, dalam Tafsir Ringkas Kemenag seperti dikutip Tafsirweb, QS. Ar-Rum ayat 41 ditafsirkan sebagai berikut.

"Telah tampak kerusakan di darat dan di laut, baik kota maupun desa, disebabkan karena perbuatan tangan manusia yang dikendalikan oleh hawa nafsu dan jauh dari tuntunan fitrah. Allah Azza Wa Jalla menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari akibat perbuatan buruk mereka agar mereka kembali ke jalan yang benar dengan menjaga kesesuaian perilakunya dengan fitrahnya."

Disebutkan, ayat ini hadir setelah Allah Azza Wa Jalla mengungkapkan sifat buruk kaum musyrik Mekah yang menuruti hawa nafsu hingga mengabaikan kebenaran. Pola yang sama, yakni menjadikan hawa nafsu sebagai "tuhan", disebut sebagai akar kerusakan yang tampak di bumi.

Kerusakan itu digambarkan muncul baik di kota maupun desa, sebagai hasil dari ulah atau tindakan manusia yang tidak lagi dikendalikan oleh nilai ketuhanan, melainkan oleh kepentingan duniawi: eksploitasi alam, ketidakadilan, pemborosan, serta perilaku yang merusak keseimbangan lingkungan.

Allah Azza Wa Jalla kemudian menyampaikan bahwa manusia dibiarkan merasakan sebagian dari akibat ulahnya. Tujuannya bukan untuk menghukum semata, melainkan agar manusia kembali ke jalan yang benar, menyelaraskan perilakunya dengan fitrah, dan menghentikan tindakan-tindakan yang memperparah kondisi bumi.

Pesan moral dari ayat ini kian kuat di tengah meningkatnya deforestasi, polusi, krisis air, hingga perubahan iklim global. Al-Qur’an memberikan perspektif bahwa penyelesaian masalah ekologis tidak hanya menuntut solusi teknis, tetapi juga perubahan spiritual dan perilaku: menahan hawa nafsu, menjaga keseimbangan, serta mengembalikan hubungan manusia dengan alam sebagaimana diamanahkan.

Di tengah ancaman kerusakan lingkungan yang semakin nyata, ayat ini menjadi pengingat bahwa bumi tidak rusak dengan sendirinya. Kerusakan itu lahir dari pilihan manusia, dan penyembuhannya pun bergantung pada manusia yang kembali kepada fitrah.

Dalam konteks modern, peringatan Al-Qur’an ini menjadi dorongan moral untuk memperbaiki cara manusia memperlakukan alam. Menjaga lingkungan bukan sekadar tuntutan etis, tetapi juga bagian dari ibadah dan amanah sebagai khalifah di bumi. (*)

Wallahu`alam