Arsip - lukisan Penangkapan Pangeran Diponegoro (Foto: Wikipedia)
JAKARTA - Setiap tanggal 10 November, bangsa Indonesia memperingati Hari Pahlawan Nasional, sebuah momentum untuk mengenang jasa para pejuang yang telah berkorban demi kemerdekaan dan persatuan negeri.
Peringatan tahun ini tidak hanya menjadi refleksi atas perjuangan fisik di masa lalu, tetapi juga pengingat nilai-nilai spiritual, moral, dan keteguhan iman yang menjadi kekuatan para pahlawan bangsa, termasuk mereka yang beragama Islam dan berjuang atas dasar keyakinan serta cinta tanah air.
Pangeran Diponegoro dikenal sebagai tokoh utama dalam Perang Jawa (1825–1830) melawan penjajahan Belanda. Lahir di Yogyakarta pada tahun 1785, ia merupakan putra dari Sultan Hamengkubuwono III.
Diponegoro dikenal sebagai sosok religius yang menjadikan perjuangan melawan kolonialisme sebagai bagian dari jihad fi sabilillah. Dengan tekad kuat dan semangat spiritual, ia memimpin perlawanan rakyat selama lima tahun sebelum akhirnya ditangkap dan diasingkan ke Makassar, tempat ia wafat pada tahun 1855.
Dikenal sebagai pejuang perempuan tangguh dari Aceh, Cut Nyak Dhien berperang melawan Belanda setelah gugurnya sang suami, Teuku Umar.
Dibekali keimanan yang kuat dan semangat jihad, ia memimpin pasukan dengan penuh keberanian. Keteguhannya menginspirasi banyak wanita Muslimah untuk berjuang, bukan hanya di medan perang tetapi juga dalam mempertahankan martabat bangsa.
Pada tahun 1905, Cut Nyak Dhien ditangkap dan diasingkan ke Sumedang hingga wafat pada tahun 1908.
Pahlawan asal Sumatra Barat ini dikenal sebagai tokoh penting dalam Perang Padri (1803–1837). Tuanku Imam Bonjol berjuang menegakkan nilai-nilai Islam sekaligus menentang penjajahan Belanda.
Sebagai ulama dan pemimpin, ia berusaha menyatukan kekuatan umat Islam untuk memperjuangkan kemerdekaan serta melawan ketidakadilan. Ia wafat dalam pengasingan di Minahasa pada tahun 1864, namun semangat perjuangannya tetap hidup dalam sejarah bangsa.
Pendiri Nahdlatul Ulama (NU) ini merupakan ulama besar sekaligus tokoh nasional yang berperan penting dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia.
Melalui Resolusi Jihad yang dikeluarkannya pada 22 Oktober 1945, KH. Hasyim Asy’ari menyerukan kepada seluruh umat Islam untuk berjuang mempertahankan kemerdekaan melawan penjajahan. Seruan tersebut menjadi salah satu pemicu lahirnya pertempuran besar di Surabaya pada 10 November yang kini diperingati sebagai Hari Pahlawan Nasional.
Dijuluki “Ayam Jantan dari Timur”, Sultan Hasanuddin dari Kerajaan Gowa, Makassar, dikenal karena keberaniannya melawan VOC Belanda pada abad ke-17.
Sebagai pemimpin yang beriman, ia menolak tunduk kepada kekuasaan asing dan berjuang mempertahankan kedaulatan rakyatnya. Semangat perjuangannya yang pantang menyerah membuatnya diakui sebagai salah satu pahlawan nasional Indonesia.