• Sport

Mengupas Gaji Pemain Sepak Bola Eropa, Mewah tapi Tak Selalu Tinggi

Vaza Diva | Senin, 16/06/2025 14:30 WIB
Mengupas Gaji Pemain Sepak Bola Eropa, Mewah tapi Tak Selalu Tinggi Ilustrasi - logo UEFA (Foto: Goal)

Jakarta, Katakini.com - Eropa dikenal sebagai magnet bagi pesepak bola profesional. Banyak yang mengira bermain di sana otomatis berarti bergaji tinggi. Namun kenyataannya, tidak ada aturan tunggal yang menentukan seberapa besar gaji yang bisa diterima seorang pemain.

UEFA sendiri tidak menetapkan batas gaji individu. Mereka hanya mengatur belanja klub lewat Financial Fair Play (FFP), yang memastikan pengeluaran klub tidak melebihi pemasukan. Jadi, klub boleh menggaji pemain sebesar apa pun, asal neraca keuangannya sehat.

Namun, beberapa liga nasional punya regulasi lebih ketat. La Liga Spanyol menerapkan Salary Limit, yakni batas total gaji berdasarkan pendapatan bersih klub. Real Madrid bisa punya batas gaji jauh lebih besar daripada Cádiz, karena perbedaan skala finansial.

Di Prancis, badan DNCG mengawasi keuangan klub dan bisa menjatuhkan sanksi berat jika klub melanggar, mulai dari denda hingga degradasi administratif. Inggris tak memiliki salary cap, tetapi tetap memberlakukan Profit and Sustainability Rules untuk membatasi kerugian jangka panjang.

Sementara itu, Jerman juga tidak membatasi gaji langsung, tetapi menjalankan regulasi lisensi ketat dan filosofi “50+1” yang membatasi kontrol investor. Gaji besar tetap mungkin, selama klub mandiri secara ekonomi.

Dalam praktiknya, kesenjangan penghasilan sangat mencolok. Bintang top di klub besar seperti PSG atau Manchester City bisa mengantongi €10–20 juta per tahun. Di sisi lain, pemain di liga kasta bawah hanya mendapat sekitar €2.000–5.000 per bulan, bahkan ada yang harus mencari pekerjaan tambahan.

UEFA pun tidak menetapkan gaji minimum secara universal. Pemain muda akademi bisa saja bergaji sangat kecil, tergantung negosiasi dengan klub.