• Bisnis

Trik Kalahkan Inflasi dengan Investasi yang Tepat

Nitro Luindimar | Minggu, 26/06/2022 21:15 WIB
Trik Kalahkan Inflasi dengan Investasi yang Tepat Trik Kalahkan Inflasi dengan Investasi yang Tepat. FOTO: HO/IST

JAKARTA - Hari gini menabung saja tidak cukup. Pasalnya inflasi yang terus naik membuat tabungan kita nilainya menjadi tak seberapa.

Buat kamu yang belum mengerti apa itu inflasi, sederhananya inflasi diartikan sebagai keadaan di mana uang yang kita miliki mengalami penurunan nilai yang menyebabkan harga barang atau jasa terus naik.

Sebagai contoh, pada tahun 2010 harga sebungkus mi instan sekitar Rp 1.000 saja, namun lebih dari 10 tahun kemudian atau pada saat ini kamu pasti tahu harganya bisa lebih dari Rp2.500.

Ini artinya kita harus menambah pengeluaran menjadi Rp 1.500 untuk membeli sebungkus mi instan yang sama, kenaikan harga inilah yang disebut inflasi.

Sekarang sudah jelas, walaupun uang kita bertambah banyak karena rajin menabung, tetapi apa yang bisa kita beli dengan uang itu semakin lama semakin berkurang.

Lalu bagaimana cara melawan inflasi?

Jawabannya adalah kita harus menaikkan nilai uang kita lebih besar dari tingkat inflasi, yakni dengan melakukan investasi. Mengapa tidak cukup dengan menabung?

Dikutip dari Bareksa.com, sebagai gambaran, inflasi Indonesia per Mei 2022 mencapai 3,55 persen.

Sementara itu, rata-rata suku bunga deposito tenor 12 bulan berdasarkan data Pusat Informasi Pasar Uang Bank Indonesia per 22 Juni 2022 hanya sebesar 3,27 persen.

Itu pun belum dipotong pajak atas bunga deposito yang sebesar 20 persen, artinya imbal hasil bersih yang diterima hanya 2,62 persen. Artinya, jika hanya mengandalkan tabungan, uang kita justru akan -0,93 persen (2,62 persen – 3,55 persen).

Bandingkan jika kita memilih untuk berinvestasi, misalkan ke jenis investasi yang rendah risiko seperti reksadana pasar uang.

Berdasarkan tabel tersebut, dapat dilihat bahwa top 10 return tertinggi reksadana pasar uang di Bareksa mampu memberikan imbal hasil (return) di atas 4 persen, tepatnya dengan rata-rata 4,36 persen.

Itu pun sudah imbal hasil bersih yang diterima investor, alias tanpa dikenakan lagi pajak.

Artinya dengan berinvestasi di reksadana pasar uang, kita setidaknya sudah bisa mengalahkan inflasi di mana uang kita masih surplus 0,81 persen (4,36 persen – 3,55 persen). Jauh lebih baik dibandingkan dengan deposito bukan? (*)

 

FOLLOW US