• Bisnis

Pasar Saham Moncer, Cuan Reksadana Syariah Naik Kencang

Nitro Luindimar | Minggu, 10/04/2022 11:32 WIB
Pasar Saham Moncer, Cuan Reksadana Syariah Naik Kencang Ilustrasi Reksadana Syariah. Pasar Saham Moncer, Cuan Reksadana Syariah Naik Kencang. (FOTO: LIFEPAL)

JAKARTA - Pasar saham Tanah Air kian mencorong. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sebagai acuan kinerja pasar saham kembali mencatatkan rekor tertinggi baru sepanjang masa (all time high).

Pada Jumat (8/4/2022) kemarin IHSG berhasil ditutup tembus 7.210, naik 1,17 persen dibandingkan penutupan Kamis.

Prestasi kinerja IHSG ditopang oleh banjirnya dana asing memborong saham nasional mencapai Rp1,4 triliun hanya dalam sehari.

Dikutip dari Bareksa.com, menurut analisis Bareksa, banjirnya dana asing ke pasar saham domestik seiring optimisme investor atas pemulihan ekonomi nasional. Kondisi itu terlihat nilai cadangan devisa yang masih terjaga, angka inflasi sesuai perkiraan, hingga stabilnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Analisis Bareksa melihat, tren pemulihan ekonomi juga semakin kelihatan dari rilis penjualan otomotif nasional pada Maret 2022 yang sudah kembali ke level sebelum pandemi.

Tanda pemulihan ekonomi RI yang semakin kelihatan tersebut sudah direfleksikan oleh kinerja pasar modal saat ini. Tercatat aliran dana asing mencapai Rp47,4 triliun sepanjang tahun berjalan per 8 April 2022 di pasar reguler.

Sektor-sektor saham yang mengalami lonjakan tertinggi di antaranya energi dan basic material yang berbasis komoditas naik kencang sepekan terakhir.

Indonesia sebagai salah satu pengekspor batu bara terbesar dunia, dinilai akan diuntungkan dari kebijakan larangan impor batu bara Rusia oleh Uni Eropa.

Kinerja cemerlang pasar saham nasional cukup membanggakan di tengah sentimen peluang kenaikan suku bunga acuan Bank Sentral AS Federal Reserve (The Fed) pekan depan.

Pada rapat April ini, The Fed diperkirakan akan menaikkan suku bunga acuannya (Fed Funds Rate) secara lebih agresif dibandingkan pada Maret lalu.

Langkah itu dilakukan The Fed guna memerangi tingginya lonjakan inflasi di Negara Adidaya tersebut.

Menurut pandangan Bareksa, kebijakan The Fed yang agresif menaikkan suku bunga acuannya juga berdampak biaya dana di negara itu meningkat dan juga menurunkan valuasi saham-saham AS.

Kondisi inilah yang membuat investor global berbondong-bondong memborong saham negara berkembang, termasuk Indonesia. Sebab mayoritas negara berkembang di Asia adalah penghasil komoditas.

Lonjakan harga komoditas yang terjadi menyusul konflik Rusia - Ukraina akan menguntungkan negara penghasil komoditas, sehingga bisa mendongkrak nilai ekspor dan membuat neraca berjalan surplus.

Kondisi ini akan membuat rupiah berpeluang lebih stabil dan kuat. Hal inilah yang menarik minat investor asing memborong saham RI.

Reksadana Syariah Naik Kencang

Di tengah moncernya kinerja pasar saham, reksadana syariah terutama yang berbasis saham komoditas juga ikut naik kencang.

Menurut analis Bareksa, beberapa produk reksadana syariah berkinerja mencorong di antaranya reksadana saham syariah Batavia Dana Saham Syariah, TRIM Syariah Saham dan BNP Paribas Pesona Syariah.

Ketiga reksadana ini mampu membukukan cuan antara 5-8 persen sepanjang tahun berjalan per 6 April 2022.

Beberapa produk reksadana syariah tersebut juga memiliki portofolio investasi di saham komoditas.

Berikut Daftar Reksa Dana dan Imbal Hasil (Return)

1. Reksa Dana Saham –> YtD – > 1 Tahun
2. Batavia Dana Saham Syariah –> 8.15% –> 7.42%
3. TRIM Syariah Saham –> 6.49% –> 5.69%
4. BNP Paribas Pesona Syariah –> 5.00% –> 5.53%

Sepekan terakhir (per 8 April 2022), TRIM Syariah Saham membukukan cuan 5,86 persen, Batavia Dana Saham Syariah mencatatkan imbalan 3,45 persen dan imbal hasil BNP Paribas Pesona Syariah 2,78 persen.

Perlu diketahui, reksadana adalah wadah untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal (investor).

Dana yang telah terkumpul tersebut nantinya akan diinvestasikan oleh manajer investasi ke dalam beberapa instrumen investasi seperti saham, obligasi, atau deposito.

Reksadana juga diartikan sebagai salah satu alternatif investasi bagi masyarakat pemodal, khususnya pemodal kecil dan pemodal yang tidak memiliki banyak waktu dan keahlian untuk menghitung risiko atas investasi mereka. (*)

FOLLOW US