Anggota MPR RI Dedi Iskandar Batubara (Foto: MPR)
JAKARTA - Anggota MPR RI Dedi Iskandar Batubara mengungkapkan keprihatinan atas bencana banjir dan longsor yang melanda hampir seluruh wilayah pantai barat Sumatera Utara menyusul hujan deras.
Musibah ini telah memutuskan sejumlah akses jalan, termasuk menuju Langsa dan perbatasan Aceh. Dedi pun menyerukan perlunya kesadaran bahwa setiap bencana terjadi akibat ulah manusia, dan harus menjadi panggilan untuk kembali mendekat kepada Tuhan, serta introspeksi kolektif.
"Semoga musibah ini menjadi peringatan bagi kita untuk semakin mendekat kepada Allah. Ini adalah cara Allah menegur kita semua. Tidak ada musibah yang terjadi kecuali karena ulah tangan manusia. Mudah-mudahan kita menjadi lebih sadar dan kembali kepada-Nya," kata Dedi.
Hal tersebut Dedi sampaikan ketika jadi pembicara kunci dalam kegiatan bicara buku bersama Wakil Rakyat yang diselenggarakan oleh Perpustakaan MPR RI dan Universitas Muslim Nusantara (UMN) Al Washliyah Medan, di Aula Al Washliyah Medan, Sumatera Utara, pada Kamis (27/11/2025).
Sebagai tokoh sentral dalam buku biografi ini, Dedi memaparkan secara mendalam mengenai nilai-nilai perjuangan dan keteguhan yang menjadi inti karyanya.
Ia mengungkapkan bahwa penciptaan buku ini didorong oleh permintaan tulus dari sahabat-sahabatnya, dengan tujuan mulia, yakni memberikan motivasi nyata kepada setiap individu yang mungkin menghadapi perjalanan hidup yang keras dan serba terbatas. Dedi kemudian memberikan penekanan filosofis tentang makna sejati bukunya.
“Menurut saya, buku ini bukan milik saya. Ini milik semua orang yang punya cita-cita besar, tapi tidak memiliki harta atau ‘darah biru’. Semua orang yang pernah ragu pada masa depannya. Allah memuliakan kita bukan karena jabatan atau harta, tapi karena kedekatan kita kepada-Nya,” tegas Dedi.
Dalam momen yang mengharukan, ia memanggil serta mengajak istri tercinta, Zubaidah Khan, putri sulungnya Nayla Azmina Zuhdi Batubaa, dan adik kandungnya, Dr. Siti Fatimah Batubara, untuk berdiri bersamanya di atas panggung. Dedi menegaskan bahwa mereka adalah pilar dan pendukung sejati yang selalu membersamainya dalam setiap etape perjuangan hidup.
“Adik saya inilah yang paling tahu persis perjalanan hidup kami. Saya sering bercerita bahwa waktu kecil saya tidak pernah punya kamar tidur. Kamar saya adalah ruang tamu yang malam hari digelar tikar. Kecoak dan tikus sering lewat, datang dari septic tank yang berada tepat di atas tempat tidur kami. Tetapi kami tidak pernah merasa terganggu,” tuturnya.
Dedi melanjutkan, bahwa butuh sembilan tahun untuk dapat menyelesaikan S1, bukan karena bodoh, namun karena dirinya selalu juara sejak di bangku Sekolah Dasar (SD), dari sekolah umum sampai sekolah agama. Tetapi saat kuliah, adiknya kemudian masuk Fakultas Pertanian.
“Saya hentikan kuliah agar dia bisa lebih dulu. Dia daftar SMP, SMA, kuliah sendiri. Ketika ke Amerika pun ia urus sendiri. Sekarang ia S2. Perjalanan itu indah," ujar Dedi.
"Begitu banyak orang yang ikut mewarnai prosesnya. Termasuk istri saya yang mungkin kalau dulu tahu siapa saya sebenarnya, mungkin akan berpikir ulang. Saya ketemu dengannya pertama kali saat ia latihan khidmat. Setelah itu tidak bertemu lagi. Saya menyukainya selama tiga tahun sebelum ia mau menerima saya,” sambungnya.
Sebagai informasi, kegiatan bicara buku ini juga turut serta dua narasumber handal, yakni Dr. H. Abdul Hafiz Harahap, pakar komunikasi dari FISIP Universitas Sumatera Utara (USU) sebagai peninjau buku, dan sang penulis buku, Jufri Bulian, serta dimoderatori Rusli Efendi Damanik.
Acara ini juga dihadiri Pustakawan Ahli Madya MPR RI, Yusniar, serta jajaran sekaligus sejumlah mahasiswa UMN Al Washliyah Medan dan Universitas Sumatera Utara.