Jum'at, 28/02/2020 03:20 WIB

  • News

Demokrat Beberkan Bukti Baru untuk Lengserkan Trump

Rabu, 15/01/2020 11:46 WIB
Demokrat Beberkan Bukti Baru untuk Lengserkan Trump Para pengunjuk rasa membawa spanduk bertuliskan No More Trump di Caracas pada 31 Agustus 2019. (Foto via Presstv)

Washington, Katakini.com - Fraksi Demokrat di Dewan Perwakilan Rakyat Amerika Serikat (DPR AS), membeberkan sejumlah dokumen terbaru sebagai bahan pemakzulan Presiden Donald Trump dalam persidangan Senat AS.

Dokumen yang diperoleh dari Lev Parnas, rekan dekat pengacara pribadi Presiden Donald Trump Rudy Giuliani tersebut, menguatkan tuduhan Demokrat bahwa Trump menekan Ukraina supaya menyelidiki Demokrat saat menahan bantuan militer ke negara itu.

Materi menunjukkan bahwa Parnas terus berkomunikasi dengan Giuliani, dan juga pejabat Ukraina saat ia bekerja sebagai perantara.

Dokumen-dokumen tersebut di antaranya berbentuk tangkapan layar (screenshot) surat, yang sebelumnya tidak diungkapkan dari Giuliani kepada Presiden Ukraina Volodymir Zelenskiy sebelum ia menjabat.

Dalam surat itu, Giuliani mengumumkan dirinya sebagai pengacara pribadi Trump dan meminta pertemuan dengan Zelenskiy "sebagai penasihat pribadi untuk Presiden Trump dan dengan pengetahuan dan persetujuannya."

Dokumen yang terdiri dari catatan telepon, teks, dan flash drive diberikan oleh Parnas, dikirim ke Komite Kehakiman DPR oleh tiga komite DPR lainnya.

"Untuk dimasukkan sebagai bagian dari catatan resmi yang akan dikirim ke Senat bersama dengan Artikel Pemakzulan," menurut pernyataan yang dikutip oleh Associated Press pada Rabu (151/). Beberapa materi dapat diakses oleh publik, sementara lainnya sensitif.

Dalam sebuah pernyataan, empat ketua komite DPR mengatakan bahwa mereka telah melanjutkan penyelidikan, sehingga pengusung pemakzulan di DPR "dapat memberikan kepada Senat catatan faktual paling lengkap", sebelum persidangan pemakzulan.

"Kami terus mengumpulkan bukti tambahan yang relevan dengan tuduhan presiden telah menyalahgunakan kekuasaannya dengan menekan Ukraina ikut campur dalam pemilihan 2020, demi keuntungan presiden," tulis Ketua Komite Intelijen DPR Adam Schiff, Ketua Komite Urusan Luar Negeri DPR Eliot Engel, Ketua Komite Pengawasan dan Reformasi DPR Carolyn Maloney dan Ketua Komite Peradilan House Jerrold Nadler.

Parnas dan mitra bisnisnya, Igor Fruman, merupakan warga AS yang beremigrasi dari bekas blok Soviet. Keduanya didakwa tahun lalu atas tuduhan konspirasi, membuat pernyataan palsu dan memalsukan catatan.

Jaksa menuduh mereka menerima sumbangan kampanye berlebihan untuk Partai Republik, setelah mendapatkan jutaan dolar dari Rusia.

Di antara dokumen yang dirilis oleh DPR ialah tulisan tangan pada selembar kertas di Ritz-Carlton Hotel, Wina yang bertuliskan, "Minta Zalensky agar kasus Biden akan diselidiki."

Dalam sebuah panggilan Juli lalu, Trump juga meminta Zelenskiy untuk menyelidiki saingan politiknya asal Demokrat, Joe Biden, dan putranya Hunter Biden yang bertugas di sebuah perusahaan gas yang berbasis di Ukraina.

Beberapa dokumen lainnya menunjukkan bahwa Parnas berkomunikasi dengan Giuliani dan pengacara lain, Victoria Toensing, tentang pemindahan Marie Yovanovitch, yang merupakan duta besar AS untuk Ukraina.

Kepindahannya, didorong oleh Trump, berada di pusat penyelidikan Demokrat. Yovanovitch bersaksi dalam sidang pemakzulan DPR dan mengatakan dia adalah korban dari kampanye kotor.