Senin, 23/09/2019 23:39 WIB
  • Umum

Pakar Politik: Kebebasan Pers Adalah Peninggalan Habibie Ketika Berkuasa

Kamis, 12/09/2019 10:34 WIB
Pakar Politik: Kebebasan Pers Adalah Peninggalan Habibie Ketika Berkuasa Wijayanto, Direktur LP3ES

Jakarta - Direktur LP3ES Center for Media and Democracy, Wijayanto, Ph.D menyebut salah satu pencapaian terpenting dari masa pemerintahan Presiden BJ Habibie selama 17 bulan kepemimpinannya adalah membebaskan press Indonesia.

Pendapat Wijayanto ini berdasarkan tulis Janet Steele, seorang Indonesianis dari Amerika di jurnal termasyhur, Indonesia, terbitan Cornell University itu pada musim gugur 2012.

Ya, kata Wijayanto, tahun 1999 adalah masa bersejarah untuk press Indonesia. Keputusan Habibie untuk mensyahkan UU Press nomor 40 tahun 1999 telah dianggap sebagai “mencengangkan dunia.”

Wijayanto yang juga Dosen Ilmu Politik, Universitas Diponegoro, Semarang menjelaskan, anggapan bahwa Habibie dekat dengan Suharto, dan kasus yang pernah menimpanya terkait pemberitaan Jakarta Post pada 1997, membuat publik meragukannya.

"Tapi, bapak bangsa ini melakukan apa yang kini media dan pejuang kebebasan pers sebagai satu periode yang indah. Sejak itu tak diperbolehkan lagi ada bredel untuk press Indonesia. Tak diperlukan lagi ijin terbit untuk mendirikan perusahaan pers," jelasnya.

Kata Wijayanto, kebebasan pers ini adalah satu warisan yang kini nikmati seluruh anak bangsa. Perlu diingat, lanjutnya, warisan ini harus dijaga dan dirawat oleh para pemimpin mana pun sesudahnya termasuk, tentu saja, Presiden hari ini.

"Habibie telah menunjukkan bahwa dia tidak hanya memiliki otak begitu brilian yang mampu mencipta pesawat terbang, namun juga memiliki hati seorang negarawan yang cinta demokrasi," jelas Wijayanto.

Bagi Wijayanto, Habibie bukan politisi yang sibuk berpikir tentang pemilu tahun depan; tentang bagaimana mempertahankan kekuasaan.

Sejarah mencatat masa pemerintahannya berlangsung begitu singkat. Namun dia adalah negarawan yang sibuk berpikir tentang generasi masa depan.

"Kini dan nanti, namanya akan dikenang dengan harum mewangi dalam altar sejarah bangsa ini. Tepat untuk inilah, kita semua patut berduka hari ini," tuntas Wijayanto, Ph.D, Direktur LP3ES Center for Media and Democracy, Dosen Ilmu Politik, Universitas Diponegoro.

Keywords :