Senin, 23/09/2019 23:38 WIB
  • Umum

Turki akan Resmikan Pangkalan Militer Baru di Qatar

Kamis, 15/08/2019 21:46 WIB
Turki akan Resmikan Pangkalan Militer Baru di Qatar Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan menyambut pasukan Turki selama kunjungannya di pangkalan gabungan Komando Gabungan Qatar-Turki di Doha, Qatar, 15 November 2017. (Foto: Anadolu Agency)

Ankara - Turki dilaporkan akan meresmikan pangkalan militer baru di Qatar pada musim gugur ketika kedua negara menjalin hubungan yang lebih erat di tengah blokade yang dipimpin Saudi di Doha.

Turkish Hurriyet Daily News melaporkan pada Rabu (14/8), Ankara membangun fasilitas baru yang bersebelahan dengan kamp Tariq Ibn Ziyad di selatan Doha, yang dinamai Komando Gabungan Gabungan Qatar-Turki pada Desember 2017.

"Pangkalan militer di Qatar semakin besar. Sebuah pangkalan baru telah dibangun di dekat pangkalan militer Tariq ibn Ziyad. Pangkalan utama, di mana terdapat banyak fasilitas sosial," kata laporan itu.

"Jumlah tentara Turki di Qatar akan mencapai angka yang drastis," tambahnya.

Laporan itu juga menyebutkan, para pejabat sudah mengadakan pembicaraan pada upacara pembukaan di musim gugur. Hadir saat itu, Emir Qatar Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani dan Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan.

Angkatan pertama pasukan Turki tiba di Qatar pada tahun 2015.

Beberapa laporan mengatakan sekitar 3.000 pasukan Turki ditempatkan di pangkalan Tariq Bin Ziyad, yang memiliki kapasitas hingga 5.000 personil militer.

Turki menjadi pendukung utama Doha sejak Juni 2017, ketika Arab Saudi, Bahrain, Uni Emirat Arab dan Mesir memutuskan hubungan diplomatik dan perdagangan dengan Qatar.

Kuartet yang dipimpin Saudi menuduh Qatar mendukung terorisme, sebuah tuduhan yang sangat dibantah oleh Doha.

Mereka juga memberikan daftar tuntutan kepada Qatar dan memberikannya sebuah ultimatum untuk mematuhinya atau menghadapi konsekuensi.

Di antara tuntutan itu adalah Qatar menutup pangkalan militer Turki dan menghentikan kerja sama militer dengan Turki.

Doha, bagaimanapun, menolak untuk memenuhi tuntutan dan menekankan bahwa ia tidak akan meninggalkan kebijakan luar negerinya.

"Secara keseluruhan, negara-negara Teluk, terutama Arab Saudi, merasa tidak nyaman dengan kerja sama Turki-Qatar. Terlepas dari semua ini, Turki berusaha membangun arsitektur keamanan yang tahan lama dan domain militer dan politik," kata laporan itu.