Sabtu, 24/08/2019 08:46 WIB
  • Umum

Kenali Gejala Kanker Otak yang Renggut Nyawa Agung Hercules

Rabu, 14/08/2019 20:52 WIB
Kenali Gejala Kanker Otak yang Renggut Nyawa Agung Hercules Ilustrasi otak (foto: Google)

Jakarta – Kanker otak merupakan penyakit dengan jumlah penderita kedua terbanyak di dunia, setelah kanker darah atau leukimia. Kendati demikian, kanker ini di Indonesia masih belum terdata jumlah penderitanya, karena kasus yang dilaporkan rumah sakit masih rendah.

Dijelaskan oleh dr. Mururul Aisyi, Sp.A (K), alasan belum terdatanya jumlah kanker otak dikarenakan pasien umumnya tidak berobat medis di rumah sakit. Selain itu pula, pasien kerap kali datang saat memasuki stadium lanjut.

“Sehingga belum tuntas pengobatan, pasien sudah menyerah,” kata dr. Aisyi kepada Jurnas.com, pada Rabu (14/8).

Baru-baru ini, kanker otak merenggut nyawa aktor populer Agung Hercules. Kanker tersebut, menurut dr. Aisyi, tergolong ganas dan berbahaya, bahkan dapat mengakibatkan kematian bagi penderitanya.

Anak-anak pun, lanjut dia, dapat terserang penyakit ini. Karena itu, penting bagi masyarakat untuk mengenali gejala kanker otak, agar lekas mendapatkan perawatan medis.

“Jadi bagi ibu-ibu yang memiliki aak usia di atas lima tahun, jangan abaikan jika anaknya mengeluh sakit kepala, bukan sakit kepala biasa ya, tapi sakit kepala hebat,” ujar dr. Aisyi.

Selain sakit kepala, ditemukan juga gejala lainnya seperti kejang, muntah dan gangguan keseimbangan tubuh. Gejala ini biasanya sering disangka hanya sakit kepala pada umumnya atau kondisi kelelahan pada si anak.

“Si anak mengeluh seperti goyang saat berjalan. Sehingga hanya dikasih obat ringan atau obat rumahan dan si anak disuruh istirahat karena yakit setelah minum obat itu akan sembuh,” lanjut dr. Aisy.

Penyebab timbulnya gejala tersebut bisa karena faktor genetik, bawaan sejak lahir, atau karena faktor lingkungan dan gaya hidup pada orang dewasa. Gejala pada orang dewasa hampir mirip. Terkadang disertai pula dengan gangguan tidur.

“Gejala pada setiap orang itu bisa berbeda karena secara biologis juga berbeda. Biasanya selain sakit kepala, ada pula yang terbangun dari tidur pada tengah malam karena ada rasa nyeri. Kemungkinan besar nyeri itu patalogis. Harus segera dicek, jangan dibiarkan,” ungkap dia.

Sel kanker yang menyerang otak kecil ini memang sulit terdeteksi jika tidak menggunakan CT Scan. Sayangnya, menurut dokter spesialis kanker anak yang merangkap sebagai Kepala Litbang RSK Dharmais ini, peralatan CT Scan hanya terdapat di rumah sakit-rumah sakit tertentu di kota besar.

Tapi, bagi pasien anak di daerah jangan berkecil hati, biasanya mereka akan dirujuk ke rumah sakit lebih besar untuk mendapatkan pengobatan medis secara paripurna.

Sementara itu, menyinggung soal data pasien anak yang terserang kanker otak di Indonesia, dr Aisy tidak dapat menjelaskan secara spesifik, kendati ia mengklaim RSK Dharmais adalah rumah sakit paling maju dalam hal national cancer registry.

“Namun memang belum terspesifikasi berdasarkan jenis kanker seperti pada rumah sakit modern di luar negeri. Di sini belum lengkap survival analysis-nya, tapi masih proses dan terus diupayakan yang tebaik,” tutup dr Aisy.