Jum'at, 28/02/2020 03:22 WIB

  • Gaya Hidup

Trump Diminta Berhenti Perlakukan China sebagai Musuh

Minggu, 30/06/2019 21:53 WIB
Trump Diminta Berhenti Perlakukan China sebagai Musuh Presiden China Xi Jinping dan Presiden AS Donald Trump menghadiri pertemuan bilateral di sela KTT G20 di Osaka pada 29 Juni 2019. (Foto: AFP)

Washington, Etoday.com - Sejumlah ahli di Asia, termasuk mantan diplomat dan perwira militer Amerika Serikat (AS) meminta Presiden AS, Donald Trump mempertimbangkan kembali kebijakan yang memperlakukan China sebagai musuh.

Dalam sebuah draf surat terbuka, yang dikuti kantor berita Reuters, mereka memperingatkan bahwa pendekatan perang dapat merugikan kepentingan AS serta ekonomi global.

"Meskipun kami sangat terganggu dengan perilaku Beijing baru-baru ini, kami juga percaya bahwa banyak tindakan AS yang dapat merusak hubungan," kata surat kepada Trump dan Kongres yang ditandatangani sekitar 80 ahli.

"Upaya AS untuk memperlakukan China sebagai musuh dan memisahkannya dari ekonomi global akan merusak peran dan reputasi internasional Amerika dan merusak kepentingan ekonomi semua negara," katanya.

"Ketakutan AS bahwa Beijing akan menggantikan AS sebagai pemimpin global itu dilebih-lebihkan," tambah surat itu.

China disebut dalam Strategi Keamanan Nasional AS 2018 Trump sebagai pesaing strategis yang bertujuan menggantikan AS sebagai kekuatan global yang unggul.

Draf surat, yang versi finalnya belum dirilis, juga mengatakan Washington harus bekerja dengan sekutu dan mitrany untuk menciptakan dunia yang lebih terbuka dan makmur dengan manjajak China.

Banyak ekonom, yang dulu optimis tentang kesepakatan perdagangan AS-China, namun kini agak condong ke arah skeptisisme.

Beberapa bahkan mengatakan dua ekonomi terbesar di dunia sedang menuju perang dingin ekonomi yang dapat berlangsung bertahun-tahun.

Peringatan itu datang saat Presiden China, Xi Jinping dan Trump mengadakan pertemuan di sela KTT G20 di Osaka Jepang dan sepakat melakukan gencatan senjata perang perdagangan serta kembalinya negosiasi bilateral mengenai penyelesaian sengketa tarif.

Trump memulai perang dagang dengan China tahun lalu saat pertama kali mengenakan tarif impor yang luar biasa berat dari negara tersebut. Sejak itu, kedua belah pihak bertukar tarif lebih dari 360 miliar dolar dalam perdagangan dua arah.

Sejak saat itu, Beijing dan Washington mengadakan pertemuan untuk menyelesaikan sengketa tsrsebut, tetapi sejauh ini tidak berhasil.

Selama pertemuan di Osaka, Sabtu (29/6), Trump berjanji untuk tidak memungut lebih banyak tarif untuk barang-barang China di tengah negosiasi perdagangan dan juga memberikan keringanan pada raksasa teknologi China Huawei.

Presiden Xi juga menyatakan setuju untuk meningkatkan ekspor produk pertanian AS selama negosiasi.

"Kami menahan tarif, dan mereka akan membeli produk pertanian, Jika kita membuat kesepakatan, itu akan menjadi peristiwa yang sangat bersejarah," kata Trump pada konferensi pers setelah pertemuan.

Trump juga mengatakan Washington akan mengizinkan Huawei membeli produk dari perusahaan AS selama perusahaan telekomunikasi itu tidak menimbulkan ancaman terhadap keamanan nasional.

Trump sebelumnya mengancam akan memperluas tarif AS yang mencakup hampir semua impor dari China ke AS jika pertemuan Osaka tidak membawa kemajuan.